Sabtu, 27 Oktober 2012

Karena saya memang berbeda

posting yang ini kiranya menjadi salah satu dari sekian banyak renungan saya tentang bagaimana setiap kejadian yang saya alami itu pasti mengandung banyak hikmah dan keberkahan yang luar biasa... pagi itu, tepatnya kemarin ketika hari raya Idul Adha, dimana jika kebanyakan orang lebih memilih berlibur untuk berkumpul dengan keluarga nya, ngasih makan embee dan sapi sana sini, sibuk bagiin hewan qurban, sampe sibuk nyate ini nyate itu. saya malah asyik tuh sama yang namanya tumpukan buku yang baru aja saya beli, di dalam kamar, tanpa peduli itu yang namanya keluarga yang lain lagi pada ngapain diluar. sebenarnya bukan karena gak mau, tapi saat itu memang ada prioritas lain diluar itu yang harus saya selesaikan dalam waktu dekat. proposal skripsi !!! yassalaaam...

hmmm, tiba tiba pintu kamar kebuka, terlihat lah kakak saya yang nomor 4 melihat kearah saya sambil geleng geleng kepala, dengan tatapan mata campur heran dan kayak sedikit kasian dia nanya "yaa ampun neng, umur lo berapa sii ??" trus saya cuma jawab singkat "21", trus dia lanjut ngomong, "yaa Allah, orang mah umur segitu udah pada nyari duit kemana mana, lu mah masih aja megang buku". abis ngomong gitu, pintu langsungg di tutup, dan sii kakak yang merasa tak berdosa ngeluyur meninggalkan saya begitu saja. lalu ada yang salah ?? pikir saya dalam hati begitu.

oke, saya memang satu satunya anak mama dan ayah yang disekolahkan sampai tingkat strata 1, yang lainnya paling tinggi D3. orientasi kehidupan dalam keluarga saya memang mempersiapkan anak-anaknya untuk bekerja, agar mampu secara mandiri mempersiapkan kehidupannya, mencari penghidupan yang lebih baik, dan agar tidak kesulitan ekonomi, semua silahkan dicari yang penting halal. karena memang pemikirannya praktis seperti itu, maka ilmu yang dicarinya pun, ilmu praktis yang penting dibutuhkan dunia kerja, bisa cari uang, membangun keluarga kecil lagi, setelah itu dan begitu seterusnya.

tapi untuk saya berbeda, pemikiran saya, jika memang menginginkan penghidupan yang lebih baik, maka ilmu yang dipunya pun harus lebih dari sekedar ilmu praktis, harus ilmu yang lebih agar bisa membantu kitanya pun lebih, tidak hanya penghidupan duniawi untuk keluarga saja, menjadi bermanfaat untuk orang lain juga penting, mempertinggi harkat dan martabat diri sendiri dan keluarga melalui pendidikan juga penting dan harus dipertimbangkan, masa mau hidup begini begini saja... ahh, saya mau menjadi sesuatu yang berbeda, yang melakukan terobosan disini, saya mau membuktikan bahwa apa yang saya yakini ini adalah benar adanya.

walaupun saya paling kecil dalam keluarga ini, terkadang tidak didengar pendapatnya, tapi yaa tidak apa apa, ini kan untuk saat ini, untuk nanti, bisa kita lihat bersama... :)

Jumat, 26 Oktober 2012

Berkerudung itu bukan Lifestlye

Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...


saya memposting konten ini bukan berarti saya merasa sudah menjadi yang paling benar dalam kehidupan ini, khususnya kehidupan seorang muslimah. bukan berarti juga saya berasal dari kalangan Muslim aliran garis keras yang menolak perubahan. bukan berarti juga saya orang yang konservatif yang tidak menginginkan adanya inovasi dalam kehidupan ini. saya hanyalah muslimah biasa yang pengetahuan keagamaannya pun tergolong biasa biasa saja, saya memposting konten ini hanyalah ingin memberikan pandangan tersendiri mengenai pergeseran nilai dan budaya yang semakin luas beberapa waktu terakhir ini.

Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin, memang mewajibkan setiap kaum perempuannya yang disebut muslimah disini untuk mengenakan jilbab ketika ia hendak keluar dari rumah ataupun ketika bertemu dengan yang bukan mahramnya. Rasulullah saw, pun bersabda yang diriwayatkan oleh sahabatnya bahwa diwajibkan kepada setiap muslimah untuk mengulurkan jilbabnya sampai menutupi dada. tujuan dari perintah ini adalah tak lain dan tak bukan untuk menjaga kehormatan dari muslimah itu sendiri.

setiap muslimah diberi anugerah oleh Allah swt dengan memiliki seribu daya tarik dan keindahan melalui kemolekan tubuh dan wajahnya untuk dijaga kesuciannya sampai pada saatnya tiba keindahan tersebut hanya boleh dilihat dan diperuntukan bagi suaminya kelak. dalam konteks ini sebelum muslimah yang bersangkutan itu dipertemukan oleh pasangannya, sudah menjadi suatu kewajibannya untuk menjaga dan merawat keindahannya itu. tetapi menurut pengamatan saya beberapa waktu terakhir ini, sepertinya perempuan lebih mengutamakan nafsu dunia nya ketimbang untuk menjaga anugerah ini. mengapa hal ini dapat terjadi demikian ???

model budaya "hijab" yang sekarang tengah digandrungi oleh para wanita dari berbagai kalangan mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, ibu-ibu, hingga nenek-nenek ini memang sangat pesat perkembangannya. tak heran memang, role model yang ditampilkan sebagai ikon muslimah yang tetap trendy "sesuai syari'ah" ini menjadi daya tarik tersendiri. mereka cantik, modis, anggun, tetapi terlihat sopan dan menarik. baik memang di satu sisi sebagai kemajuan dari dunia fashion muslimah, untuk lebih membumikan budaya penutup kepala dikalangan barat, agar para muslimah dapat lebih diterima keberadaannya.

tetapi yang menjadi menjadi catatan penting saya adalah, bagaimana tidak dengan berbagai terobosan memadumadankan warna yang cantik, menarik mata, dan full color ini, dengan berbagai mode baju yang menjuntai ke kanan dan ke kiri. terlihat cantik dan sangat menarik perhatian memang, tidak hanya untuk kalangan laki-laki pastinya, tetapi dari kaum hawa sendiri pun, hal ini menjadi hal yang menarik untuk ditiru. tak ayal, dampaknya adalah perkembangan industri modiste berkembang pesat. harga yang terkadang menurut saya tidak rasional untuk sepotong kain yang hanya di gunting kemudian di neci, sudah bisa menjadi baju pun ditawarkan dalam berbagai corak dan warna.

belum lagi bahan yang tipis menyebabkan terlihat menerawangi lengkuk tubuh indah dari muslimah itu. sampai sampai teman laki-laki saya pernah bilang "cewek zaman sekarang mah begitu yaa, emang sii udah gak ngetat ngetat lagi bajunya tapi warnanya yang tembus pandang itu, bikin nerawang nerawang kemana mana, bikin kepala atas bawah pusing" tak bisa dibayangkan memang seberapa jauh pikiran liar yang akan muncul ketika para lelaki melihat hal ini.

disatu sisi saya senang dengan keberadaan komunitas berkerudung gaya ini ada dimana mana sebab dapat menjadi salah satu indikator kemajuan dunia fashion muslimah tadi. tetapi di sisi lain yang tidak dapat saya jelaskan dengan logika saya adalah ketika hal ini dijadikan tameng bagi para kaum muslimah untuk berburu baju baju mahal yang sebenarnya bukan untuk inovasi dalam berpakaian sesuai syari'ah Islam, tetapi lebih kepada untuk memuaskan nafsu konsumerisme nya saja. wajar memang kaum muslimah itu suka dengan berbelanja, apalagi untuk menyenangkan suami, wajib malah. tetapi menjadi hal yang tidak baik saja jika hal tersebut berlebihan dan hanya menghabiskan banyak uang untuk membeli peralatan beserta aksesorisnya.

belum lagi bagi para muslimah yang menjadi model kerudung sejuta gaya ini hanya untuk ikut-ikutan saja atau hanya karena melihat hal ini sebagai sesuatu yang mereka biasa sebut "lucu", padahal secara batiniah dia belum siap untuk berkerudung misalnya. jadi nanti pake kerudung nanti engga. jadi labil banget gak sii keliatannya... apalagi dikampus saya, yang katanya orang orang kampus Islam terbesar ini, perkembangan pesat tentang model kerudung sejuta gaya ini tumbuh subur makmur gemah lipah lhok jinawi. cuma yang saya amati sekali lagi, model berkerudung sejuta gaya ini malah menjadikan mahasiswi ditempat saya berkuliah menjadi berlebihan yaa pakaiannya ??? padahal cuma mau ke kampus, emang dikampus mau di lihat siapa sii... jadi sekarang yang namanya dandanan kuliah sama kondangan itu gak ada bedanya. kan jadi aneh ngeliatnya, berlebihan aja...

hmmmmmm, dari sekian banyak analisa, bukan berarti saya gak mau berkerudung dengan sejuta gaya lho, saya juga sering pakai kerudung sejuta gaya ini, cuma InsyaAllah saya masih bisa meregulasi tempat dan pakaian dimana saya harus tampil total dengan penampilan saya, dimana saya harus tampil dengan kesederhanaan saya. dimana saya juga harus pandai mempertimbangkan kemampuan ekonomi saya untuk membeli fashion yang tidak ketinggalan zaman dengan tetap mengindahkan barang dengan harga yang rasional. yaa saran hemat saya, yang penting kita pandai untuk meregulasi diri kita sendiri untuk memfilterisasi perubahan perubahan besar yang terlihat kecil di sekitar kita... cantik itu tidak harus mahal, cantik itu sederhana, sesederhana kita memaknai kecantikan yang alami :)

sekian, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dari posting ini...

Wassalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....